Lokasi :
Desa Krisik, kecamatan Gandusari,
Jarak dari pusat kota : ±
30 km .
Jenis :
Wisata Alam dan Budaya
Akses Jalan :
Bisa Dilalui Kendaraan Roda Empat (Minibus)
Diskripsi :
Wisata
Rambut Monte terletak di desa Krisik, kecamatan Gandusari, kurang lebih 30 km
dari kota Blitar. Wisata Rambut Monte merupakan
wisata alam yang terdapat sebuah telaga, candi, petilasan atau tempat untuk bermeditasi dan di latar belakangi dengan pemandangan yang hijau dari perkebunan teh dan sawah warga setempat, yang terhampar sepanjang perjalanan menuju lokasi wisata ini. Setelah sampai dilokasi, untuk masuk ke dalam area wisata kita dikenakan tiket masuk sebesar 3ribu rupiah untuk orang dewasa dan 2ribu rupiah untuk anak-anak. Karena lokasi parkir berada dalam area, dikenakan biaya seribu sampai 3ribu rupiah untuk kendaraan bermotor, mobil, mini bus atau bus. Semua tariff tersebut akan berubah kalau ada moment-moment tertentu, misalnya saja pada saat musim liburan, ada kesenian atau hiburan musik. Dan berbeda lagi kalau sampai ada yang menginap, meskipun di wilayah tersebut tidak atau belum ada tempat penginapan.
wisata alam yang terdapat sebuah telaga, candi, petilasan atau tempat untuk bermeditasi dan di latar belakangi dengan pemandangan yang hijau dari perkebunan teh dan sawah warga setempat, yang terhampar sepanjang perjalanan menuju lokasi wisata ini. Setelah sampai dilokasi, untuk masuk ke dalam area wisata kita dikenakan tiket masuk sebesar 3ribu rupiah untuk orang dewasa dan 2ribu rupiah untuk anak-anak. Karena lokasi parkir berada dalam area, dikenakan biaya seribu sampai 3ribu rupiah untuk kendaraan bermotor, mobil, mini bus atau bus. Semua tariff tersebut akan berubah kalau ada moment-moment tertentu, misalnya saja pada saat musim liburan, ada kesenian atau hiburan musik. Dan berbeda lagi kalau sampai ada yang menginap, meskipun di wilayah tersebut tidak atau belum ada tempat penginapan.
Dalam
perjalanan menuju wisata ini wisatawan dimanjakan dengan keindahan sepanjang
jalan, hamparan sawar warga setempat dan pemandangan yang hijau dari perkebunan
teh Wisata Rambut Monte bisa merupakan wisata alam yang terdapat sebuah telaga,
candi, petilasan atau tempat untuk bermeditasi karena pengujung bisa menemui
sumber mata iar pegunungan yang bersih.
Untuk
memberi kesan lebih dan kenyaman bagi pengunjung pihak pengelola telaga
disediakan sebuah gazebo untuk beristirahat dan menikmati keindahan alam di
sekitar telaga. Keindahan lokasi Rambut Monte ini kian bertambah dengan
pantulan warna air dalam danau yang jernih kehijauan. Pengunjung tidak
diperbolehkan untuk berenang di area telaga yang berisi ikan Dewa, tetapi
terdapat kolam tersendiri untuk pengunjung berenang menikmati hijaunya alam di
Rambut Monte.
B.
Asal
usul Desa Krisik
Desa Krisik merupakan salah satu desa yang
terletak di Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Dilihat
dari topografi dan kontur tanah, secara umum daerah ini berupa persawahan dan
perbukitan yang berada pada ketinggian antara 656 meter sampai dengan 718 meter
di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar antara 17° sampai dengan
20° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa
Krisik tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 9.152 orang dengan jumlah 1.913 KK
dengan luas wilayah sekitar 428,030 hektar. Sebagian besar penduduknya
bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang
menopang pertanian.
Secara adminstratif, Desa Krisik dibatasi oleh
wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Pagersari,
Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa
Tulungrejo. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Tulungrejo, sedangkan di
sisi timur berbatasan dengan Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi.
Dalam Profil Desa Krisik, Kecamatan Gandusari,
Kabupaten Blitar, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2010 – 2014, dikisahkan bahwa konon, wilayah
Desa Krisik awalnya adalah hutan belantara, alas gung lewang-lewung,
jalmo moro jalmo mati (bahasa Jawa) yang artinya hutan belantara di
mana orang yang datang akan mati karena sangat angker.
Mbah Sukoboyo yang terkenal dengan kesaktiannya, dengan bersenjatakan sebilah
keris memberanikan diri untuk memasuki hutan belantara tersebut.
Ternyata Mbah Sukoboyo selamat, tidak meninggal
karena memasuki hutan belantara tersebut, kemudian Mbah Sukoboyo berinisiatif
untuk menjadikan areal hutan menjadi lahan yang dapat tempat tinggal dan
bercocok tanam. Setelah hutan tersebut dapat dihuni, maka berdatanganlah orang-orang
untuk ikut bertempat tinggal di lahan yang telah dijadikan pemukiman.
Mbah Sukoboyo akhirnya wafat karena usia yang
sudah uzur (konon usianya lebih dari 100 tahun ketika wafat) dan dimakamkan di
sebuah bukit kecil di Desa Krisik. Penduduk sangat menghormati dan menghargai
jasa-jasa Mbah Sukoboyo yang telah membabat hutan belantara menjadi sebuah
desa. Penduduk juga sangat meyakini bahwa sebilah keris yang dimiliki Mbah
Sukoboyo itu masih ada keberadaannya walaupun Mbah Sukoboyo sudah wafat, karena
itu penduduk sering berkata “Kerise Isik” (dalam bahasa Jawa). Kemudian
karena adanya semangat pembaharuan, maka pada sekitar tahun 1875, Djasari
menamakan desa ini dengan nama Krisik (dari kata “Kerise Isik”), dan
Djasari dipercaya penduduk untuk memimpin Desa Krisik dan diangkat menjadi
lurah (1875-1890).
C.
Kisah Ikan Dewa di Telaga Rambut Monte Blitar
Sebenarnya Rambut Monte ini adalah nama sebuah
candi berbentuk segi empat yang terbuat dari batu andesit berukuran sekurangnya
292 cm persegi. Dikawasan salah satu obyek wisata religi yang ada di Blitar
ini terdapat legenda unik tentang Ikan Dewa yang konon merupakan ujud kutukan
dari seorang guru pada murid yang tidak menaati perintah, Untuk info
selanjutnya, menurut riwayat tidak tersurat dari kisah legenda Ikan Dewa di
Telaga Rambut Monte yang dirunut berikut Menurut mbah Sarimin asli Blitar,
tetangga dekat Admin tipswisatamurah dot com mengisahkan, pada jaman antah
berantah (sebut saja jaman Majapahit, tapi beliu tidak bisa menyebut Raja yang
keberapa) Terjadi pertempuran sengit antara Rahwana (tokoh jahat dalam
pewayangan) yang dibantu seekor naga melawan Mbah Monte.
Dalam pertempuran tak seimbang satu
lawan dua itu dimenangkan oleh Mbah Monte yang konon masih trah dari kerajaan
Majapahit. Singkat cerita Rahwana yang dilukiskan sebagai tokoh angkaramuraka
dan naga tersebut bertekut lutut, dan kemudian dia dikutuk menjadi Candi Monte
yang berbentuk monyet dan batu relief naga. Sedang untuk Ikan Dewa sendiri,
(masih menurut Mbah Sarimin) itu merupakan wujud dari seorang muridnya yang
diminta untuk menjaga candi tersebut tapi ngembelo tidak mematuhi perintah.
Maka karena jengkel (kesal hati), akhirnya murid tersebut di kutuk jadi Ikan
Dewa yang sekarang ada di Telaga Rambut Monte tersebut Sampai sekarang Ikan Dewa
itu masih ada, dan konon masih dalam jumblah yang sama.
Masyarakat setempat sangat menyakini ikan
keramat tersebut tidak boleh disentuh atau dimakan. Apapun itu, Alloh SWT telah
menetapkan ikan ditempat tersebut menjadi tontonan yang layak untuk dicermati.
Maka karena hal tersebut, disekitar tempat itu sudah dari beberapa tahun lalu
mulai dibangun semacan gazebu dipinggir telaga, untuk memanjakan mata
pengunjung menikmati ikan langka di perairan yang bening di Telaga Rambut Monte
Blitar tersebut.
D.
Bersih
Desa Krisik Gandusari
Bersih Desa didefinisikan dalam bahasa Jawa “Karamean sing dibarengi
slametan lan dedongan ing padesan saben taun kang lumrahe gegayutan karohmatan
ing desa utawa mbeneri dina adeging desa” merupakan sebuah Tradisi
tahunan Masyarakat Desa Krisik sebagai bentuk dari instropeksi diri sekaligus
bersih-bersih desanya dan membersihkan Petilasan Cikal Bakal, Akal Bakal serta Pepunden Desa disamping itu dilakukan
juga kenduri atau selamatan disertai lantunan do’a-do’a yang dipanjatkan kepada
Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon keselamatan lahir batin dan semua yang
baik-baik untuk diri sendiri, keluarga dan Desa Krisik.
Kegiatan Bersih Desa selalu ditandai dengan
Ruwatan Murwakala, “luwar saka ing panênung karuwêtan bêbadan lan
saka paukuman kang ala” merupakan merupakan pelestarian nilai-nilai
budaya warisan leluhur yang adiluhung, penuh dengan simbul makna dan hikmah
kebaikan dengan tata cara seperti yang telah diajarkan oleh para Sesepuh dan
Aji Sepuh Pendahulu Desa Krisik.
Bersih Desa juga bisa dimaknai sebagai wujud
dari Rasa hormat seluruh Perangkat Desa dan Jajaran yang ada dibawahnya serta
seluruh masyarakat Desa Krisik pada umumnya, khususnya Masyarakat terhadap
Cikal Bakal atau Akal Bakal Desa Krisik. Cikal Bakal atau Akal Bakal adalah
seseorang yang telah berfikir dan bertindak untuk mengawali kehidupan di Desa
Krisik, melalui Proses Babad Desa atau pembukaan pemukiman baru.
Dalam Bersih Desa, selalu diadakan selamatan atau Kenduri di Pundhen,
yaitu papan panggonan kang dipundi-pundi (dihormati) yang
menjadi punjer (pusat) dimana Cikal Bakal atau Akal Bakal biasa melakukan
ritual memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pundhen ini juga bisa
disebut sebagai sadranan dan kegiatan kendurinya disebut Nyadran. Kegiatan Kenduri atau Nyadran ini sebenarnya
merupakan kegiatan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Arwah Nenek Moyang
dan Para Leluhur diampuni dosanya.
Bagi masyarakat Desa Krisik, kegiatan Bersih
Desa ini merupakan sebuah tradisi yang sudah melegenda yang sangat banyak
dihadiri oleh Masyarakat desa Krisik maupun orang dari lain Desa Krisik untuk menyaksikan seluruh rangkaian Kegiatan Bersih
Desa khususnya kegiatan Parade Budaya dan kirab Jolen yang berisikan ubo rampen
untuk selamatan atau kenduri menuju Pundhen. Walaupun kegiatan ini banyak
menghabiskan dana, tetapi masyarakat dengan senang hati berpartisipasi dalam
penggalangan dana dan juga ikut serta didalam dalam kegiatan Bersih Desa.
Maksud diadakannya kegiatan
Bersih Desa adalah sebagai perwujudan dari Rasa Syukur Pemerintah Desa Krisik
beserta jajarannya serta seluruh masyarakat Desa Krisik kepada Tuhan Yang Maha
Esa atas semua Rahmat, Keselamatan dan Rezeki yang telah dilimpahkan.
Maksud lainya adalah sebagai wujud penghormatan
terhadap Cikal Bakal dan Akal Bakal, Para Pinisepuh, Aji Sepuh Pendahulu Desa,
yang telah berjasa dalam babad desa hingga Desa Krisik dapat dihuni dan dapat
dijadikan lahan pertanian yang subur dengan memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang
Maha Esa agar diampuni semua dosanya dan diberikan pahala sesuai dengan amal
dan baktinya terhadap Desa Krisik.
Melestarikan budaya dan Tradisi Jawa sebagai
referensi tata kehidupan berbangsa dan bernegara serta untuk kembali kepada
“jati diri” sebagai orang Jawa dan orang yang hidup di Pulau Jawa yang senantiasa
menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang menjaga keharmonisan hubungan antar
manusia, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.
Menumbuh kembangkan rasa andap asor dan tepo
seliro Masyarakat Desa Krisik dalam bermasyarakat serta bisa mikul dhuwur
mêndhêm jêro kepada para leluhur atau sesepuh (cikal bakal, akal bakal) sebagai
bibit kawit Desa Krisik.
Memunculkan kegiatan pelestarian budaya Bersih
Desa dengan rangkaian Iring-ring Kirab Jolen, Parade Budaya, Wayang Kulit,
Ruwatan Murwakala, Langen Beksan Tayub sebagai icon wisata budaya sehingga
mempunyai nilai jual bagi wisatawan domestik maupun manca negara.
E.
CANDI
RAMBUT MONTE
Candi
ini terbuat dari batu andesit dan berdenah
segi empat, dengan berukuran panjang
292 cm, lebar 296 cm dan tingginya 85 cm dengan tangga naik berada di sisi
barat. Bangunan candi hanya tinggal bagian kaki dan tubuhnya saja, sedangkan
bagian atap candi telah mengalami keruntuhan. Candi ini merupakan tempat semedi
dan pemujaan bagi penganut agama Hindu pada jaman kerajaan Majapahit.
Disekitarnya terdapat sumber air yang sangat besar dan airnya jernih, sehingga
membentuk sebuah telaga. Telaga ini dihuni oleh ratusan ikan langka serta dikeramatkan
oleh penduduk setempat. Terkadang ada orang yang memancing di telaga ini. Atau
ada juga yang mengajak keluarga untuk sekedar berekreasi keluarga dan menikmati
kesejukan udaranya karena terdapat banyak pohon disekitar telaga. Wisata ini
merupakan wisata keramat.
F.
TELAGA
RAMBUT MONTE
Telaga
Rambut Monte secara administratif terletak di Desa Krisik, Kec. Gandusari, Kab.
Blitar. Keberadaan telaga ini tidak bisa dilepaskan deri mitos-mitos setempat.
Suasana mistis semakin kuat karena telaga ini didiami ikan langka yang tidak
ditemukan di tempat lain. Ikan tersebut disebut ikan sengkaring yang menurut
mitos setempat merupakan jelmaan murid-murid Rsi Rambut Monte yang dihukum
karena lalai. Terletak di bawah candi yang dihuni oleh ikan, yang oleh warga
sekitar di sebut dengan Ikan Dewa.
G.
BENDUNG
SUMBERDANDANG
Dinamakan
sumberdandang karena dahulu air disana panas. Sumber dandang merupakan air
sumber yang dibendung dan digunakan untuk irigasi di persawahan. Air yang
jernih dengan warna biru agak tosca mirip dengan rambut monte menjadikan daya
tarik tersendiri untuk anda. Selain itu bendungan yang dikelilingi bukit
bangunan tinggi ini cukup cantik untuk dijadikan background foto. Selama ini
belum banyak orang yang mengetahui lokasi ini, jadi saat ini kondisinya masih
sepi. Meskipun ini bukan termasuk destinasi
wisata di Blitar, namun tidak ada salahnya anda mencoba untuk
mampir.
H.
KRITIK
Berikut merupakan kritik untuk wisata
rambut monte yang dimaksudkan untuk membangun menjadi lebih baik:
a.
Akses jalan menuju rambut monte kurang
mendukung dikarenakan jauh dan jalanan rusak, selain itu di sepanjang
perjalanan tidak banyak terdapat warung kuliner serta penataan tanaman di
sepanjang jalan kurang menarik.
b.
Toilet terbatas dan kurang terawat.
Disana hanya terdapat satu toilet dan kurang bersih.
c.
Adanya kolam yang tidak diberdayakan.
Kolam tersebut dulunya digunaan sebagai kolam renang, akan tetapi sekarang
kolam tersebut tidak terpakai karena kotor dan tidak terawatt.
d.
Penataan tanaman kurang baik. Di tempat
wisata rambut monte kurang ada tanaman hias seperti bunga yang diletakkan di
pinggir kolam
e.
Kurangnya fasilitas yang mendukung di
beberapa aspek. Terdapat lahan kosong yang seharusnya dapat diberdayakan
menjadi tanaman buah-buahan, di sekitar telaga tidak ada pagar atau papan
peringatan, jarang terdapat warung atau took souvenir di dalam tempat wisata.
I.
SOLUSI
Solusi yang kami tawarkan:
a.
Perlunya perhatian lebih dari pihak pemerintah
maupun masyarakat lokal dalam akses pembangunan jalan
b.
Pembangunan toilet yang bersih dan
memadai, dibedakan antara toilet pria dan wanita
c.
Pemanfaatan kolam yang tidak
diberdayakan menjadi sarana wisata misalanya kolam renang
d.
Penambahan tanaman bunga di sekitar
kawasan wisata ramnbut monte
e.
Penambahan sarana bermain anak dan
outbound, tempat duduk/bersantai, gazebo, warung jajanan, pagar di sekitar
telaga, budidaya merpati, dan budidaya tanaman buah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar