Translate

Senin, 06 Juli 2015

Petilasan dan Telaga Rambut Monte


A.          PETILASAN DAN TELAGA RAMBUT MONTE
Lokasi                            :  Desa Krisik, kecamatan Gandusari,
Jarak dari pusat kota      :  ± 30 km                .
Jenis                               : Wisata Alam dan Budaya
Akses Jalan                    : Bisa Dilalui Kendaraan Roda Empat (Minibus)
Diskripsi                         :
Wisata Rambut Monte terletak di desa Krisik, kecamatan Gandusari, kurang lebih 30 km dari kota Blitar. Wisata Rambut Monte merupakan
wisata alam yang terdapat sebuah telaga, candi, petilasan atau tempat untuk bermeditasi dan di latar belakangi dengan pemandangan yang hijau dari perkebunan teh dan sawah warga setempat, yang terhampar sepanjang perjalanan menuju lokasi wisata ini. Setelah sampai dilokasi, untuk masuk ke dalam area wisata kita dikenakan tiket masuk sebesar 3ribu rupiah untuk orang dewasa dan 2ribu rupiah untuk anak-anak. Karena lokasi parkir berada dalam area, dikenakan biaya seribu sampai 3ribu rupiah untuk kendaraan bermotor, mobil, mini bus atau bus. Semua tariff tersebut akan berubah kalau ada moment-moment tertentu, misalnya saja pada saat musim liburan, ada kesenian atau hiburan musik. Dan berbeda lagi kalau sampai ada yang menginap, meskipun di wilayah tersebut tidak atau belum ada tempat penginapan.
Dalam perjalanan menuju wisata ini wisatawan dimanjakan dengan keindahan sepanjang jalan, hamparan sawar warga setempat dan pemandangan yang hijau dari perkebunan teh Wisata Rambut Monte bisa merupakan wisata alam yang terdapat sebuah telaga, candi, petilasan atau tempat untuk bermeditasi karena pengujung bisa menemui sumber mata iar pegunungan yang bersih.
Untuk memberi kesan lebih dan kenyaman bagi pengunjung pihak pengelola telaga disediakan sebuah gazebo untuk beristirahat dan menikmati keindahan alam di sekitar telaga. Keindahan lokasi Rambut Monte ini kian bertambah dengan pantulan warna air dalam danau yang jernih kehijauan. Pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang di area telaga yang berisi ikan Dewa, tetapi terdapat kolam tersendiri untuk pengunjung berenang menikmati hijaunya alam di Rambut Monte.

B.           Asal usul Desa Krisik
Desa Krisik merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Dilihat dari topografi dan kontur tanah, secara umum daerah ini berupa persawahan dan perbukitan yang berada pada ketinggian antara 656 meter sampai dengan 718 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata berkisar antara 17° sampai dengan 20° C.
Berdasarkan data administrasi pemerintahan Desa Krisik tahun 2010, jumlah penduduknya adalah 9.152 orang dengan jumlah 1.913 KK dengan luas wilayah sekitar 428,030 hektar. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani yang didukung oleh lingkungan alam yang menopang pertanian.
Secara adminstratif, Desa Krisik dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah utara berbatasan dengan Desa Pagersari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Di sebelah barat berbatasan dengan Desa Tulungrejo. Di sisi selatan berbatasan dengan Desa Tulungrejo, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi.
Dalam Profil Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, yang disusun oleh Tim Perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Des) Tahun 2010 – 2014, dikisahkan bahwa konon, wilayah Desa Krisik awalnya adalah hutan belantara, alas gung lewang-lewung, jalmo moro jalmo mati (bahasa Jawa) yang artinya hutan belantara di mana orang yang datang akan mati karena sangat angker. Mbah Sukoboyo yang terkenal dengan kesaktiannya, dengan bersenjatakan sebilah keris memberanikan diri untuk memasuki hutan belantara tersebut.
Ternyata Mbah Sukoboyo selamat, tidak meninggal karena memasuki hutan belantara tersebut, kemudian Mbah Sukoboyo berinisiatif untuk menjadikan areal hutan menjadi lahan yang dapat tempat tinggal dan bercocok tanam. Setelah hutan tersebut dapat dihuni, maka berdatanganlah orang-orang untuk ikut bertempat tinggal di lahan yang telah dijadikan pemukiman.
Mbah Sukoboyo akhirnya wafat karena usia yang sudah uzur (konon usianya lebih dari 100 tahun ketika wafat) dan dimakamkan di sebuah bukit kecil di Desa Krisik. Penduduk sangat menghormati dan menghargai jasa-jasa Mbah Sukoboyo yang telah membabat hutan belantara menjadi sebuah desa. Penduduk juga sangat meyakini bahwa sebilah keris yang dimiliki Mbah Sukoboyo itu masih ada keberadaannya walaupun Mbah Sukoboyo sudah wafat, karena itu penduduk sering berkata “Kerise Isik” (dalam bahasa Jawa). Kemudian karena adanya semangat pembaharuan, maka pada sekitar tahun 1875, Djasari menamakan desa ini dengan nama Krisik (dari kata “Kerise Isik”), dan Djasari dipercaya penduduk untuk memimpin Desa Krisik dan diangkat menjadi lurah (1875-1890).

C.          Kisah Ikan Dewa di Telaga Rambut Monte Blitar
Sebenarnya Rambut Monte ini adalah nama sebuah candi berbentuk segi empat yang terbuat dari batu andesit berukuran sekurangnya 292 cm persegi. Dikawasan salah satu obyek wisata religi yang ada di Blitar ini terdapat legenda unik tentang Ikan Dewa yang konon merupakan ujud kutukan dari seorang guru pada murid yang tidak menaati perintah, Untuk info selanjutnya, menurut riwayat tidak tersurat dari kisah legenda Ikan Dewa di Telaga Rambut Monte yang dirunut berikut Menurut mbah Sarimin asli Blitar, tetangga dekat Admin tipswisatamurah dot com mengisahkan, pada jaman antah berantah (sebut saja jaman Majapahit, tapi beliu tidak bisa menyebut Raja yang keberapa) Terjadi pertempuran sengit antara Rahwana (tokoh jahat dalam pewayangan) yang dibantu seekor naga melawan Mbah Monte.
Dalam pertempuran tak seimbang satu lawan dua itu dimenangkan oleh Mbah Monte yang konon masih trah dari kerajaan Majapahit. Singkat cerita Rahwana yang dilukiskan sebagai tokoh angkaramuraka dan naga tersebut bertekut lutut, dan kemudian dia dikutuk menjadi Candi Monte yang berbentuk monyet dan batu relief naga. Sedang untuk Ikan Dewa sendiri, (masih menurut Mbah Sarimin) itu merupakan wujud dari seorang muridnya yang diminta untuk menjaga candi tersebut tapi ngembelo tidak mematuhi perintah. Maka karena jengkel (kesal hati), akhirnya murid tersebut di kutuk jadi Ikan Dewa yang sekarang ada di Telaga Rambut Monte tersebut Sampai sekarang Ikan Dewa itu masih ada, dan konon masih dalam jumblah yang sama.
Masyarakat setempat sangat menyakini ikan keramat tersebut tidak boleh disentuh atau dimakan. Apapun itu, Alloh SWT telah menetapkan ikan ditempat tersebut menjadi tontonan yang layak untuk dicermati. Maka karena hal tersebut, disekitar tempat itu sudah dari beberapa tahun lalu mulai dibangun semacan gazebu dipinggir telaga, untuk memanjakan mata pengunjung menikmati ikan langka di perairan yang bening di Telaga Rambut Monte Blitar tersebut.

D.          Bersih Desa Krisik Gandusari
Bersih Desa didefinisikan dalam bahasa Jawa “Karamean sing dibarengi slametan lan dedongan ing padesan saben taun kang lumrahe gegayutan karohmatan ing desa utawa mbeneri dina adeging desa” merupakan sebuah Tradisi tahunan Masyarakat Desa Krisik sebagai bentuk dari instropeksi diri sekaligus bersih-bersih desanya dan membersihkan Petilasan Cikal BakalAkal Bakal serta Pepunden Desa disamping itu dilakukan juga kenduri atau selamatan disertai lantunan do’a-do’a yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon keselamatan lahir batin dan semua yang baik-baik untuk diri sendiri, keluarga dan Desa Krisik.
Kegiatan Bersih Desa selalu ditandai dengan Ruwatan Murwakala, “luwar saka ing panênung karuwêtan bêbadan lan saka paukuman kang ala” merupakan merupakan pelestarian nilai-nilai budaya warisan leluhur yang adiluhung, penuh dengan simbul makna dan hikmah kebaikan dengan tata cara seperti yang telah diajarkan oleh para Sesepuh dan Aji Sepuh Pendahulu Desa Krisik.
Bersih Desa juga bisa dimaknai sebagai wujud dari Rasa hormat seluruh Perangkat Desa dan Jajaran yang ada dibawahnya serta seluruh masyarakat Desa Krisik pada umumnya, khususnya Masyarakat terhadap Cikal Bakal atau Akal Bakal Desa Krisik. Cikal Bakal atau Akal Bakal adalah seseorang yang telah berfikir dan bertindak untuk mengawali kehidupan di Desa Krisik, melalui Proses Babad Desa atau pembukaan pemukiman baru.
Dalam Bersih Desa, selalu diadakan selamatan atau Kenduri di Pundhen, yaitu papan panggonan kang dipundi-pundi (dihormati) yang menjadi punjer (pusat) dimana Cikal Bakal atau Akal Bakal biasa melakukan ritual memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pundhen ini juga bisa disebut sebagai sadranan dan kegiatan kendurinya disebut Nyadran. Kegiatan Kenduri atau Nyadran ini sebenarnya merupakan kegiatan berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Arwah Nenek Moyang dan Para Leluhur diampuni dosanya.
Bagi masyarakat Desa Krisik, kegiatan Bersih Desa ini merupakan sebuah tradisi yang sudah melegenda yang sangat banyak dihadiri oleh Masyarakat desa Krisik maupun orang dari lain Desa Krisik untuk menyaksikan seluruh rangkaian Kegiatan Bersih Desa khususnya kegiatan Parade Budaya dan kirab Jolen yang berisikan ubo rampen untuk selamatan atau kenduri menuju Pundhen. Walaupun kegiatan ini banyak menghabiskan dana, tetapi masyarakat dengan senang hati berpartisipasi dalam penggalangan dana dan juga ikut serta didalam dalam kegiatan Bersih Desa.
Maksud diadakannya kegiatan Bersih Desa adalah sebagai perwujudan dari Rasa Syukur Pemerintah Desa Krisik beserta jajarannya serta seluruh masyarakat Desa Krisik kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua Rahmat, Keselamatan dan Rezeki yang telah dilimpahkan.
Maksud lainya adalah sebagai wujud penghormatan terhadap Cikal Bakal dan Akal Bakal, Para Pinisepuh, Aji Sepuh Pendahulu Desa, yang telah berjasa dalam babad desa hingga Desa Krisik dapat dihuni dan dapat dijadikan lahan pertanian yang subur dengan memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diampuni semua dosanya dan diberikan pahala sesuai dengan amal dan baktinya terhadap Desa Krisik.
Melestarikan budaya dan Tradisi Jawa sebagai referensi tata kehidupan berbangsa dan bernegara serta untuk kembali kepada “jati diri” sebagai orang Jawa dan orang yang hidup di Pulau Jawa yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang menjaga keharmonisan hubungan antar manusia, manusia dengan alam maupun manusia dengan Sang Pencipta.
Menumbuh kembangkan rasa andap asor dan tepo seliro Masyarakat Desa Krisik dalam bermasyarakat serta bisa mikul dhuwur mêndhêm jêro kepada para leluhur atau sesepuh (cikal bakal, akal bakal) sebagai bibit kawit Desa Krisik.
Memunculkan kegiatan pelestarian budaya Bersih Desa dengan rangkaian Iring-ring Kirab Jolen, Parade Budaya, Wayang Kulit, Ruwatan Murwakala, Langen Beksan Tayub sebagai icon wisata budaya sehingga mempunyai nilai jual bagi wisatawan domestik maupun manca negara.

E.           CANDI RAMBUT MONTE
Candi ini terbuat dari batu andesit dan berdenah segi empat, dengan berukuran panjang 292 cm, lebar 296 cm dan tingginya 85 cm dengan tangga naik berada di sisi barat. Bangunan candi hanya tinggal bagian kaki dan tubuhnya saja, sedangkan bagian atap candi telah mengalami keruntuhan. Candi ini merupakan tempat semedi dan pemujaan bagi penganut agama Hindu pada jaman kerajaan Majapahit. Disekitarnya terdapat sumber air yang sangat besar dan airnya jernih, sehingga membentuk sebuah telaga. Telaga ini dihuni oleh ratusan ikan langka serta dikeramatkan oleh penduduk setempat. Terkadang ada orang yang memancing di telaga ini. Atau ada juga yang mengajak keluarga untuk sekedar berekreasi keluarga dan menikmati kesejukan udaranya karena terdapat banyak pohon disekitar telaga. Wisata ini merupakan wisata keramat.

F.     TELAGA RAMBUT MONTE
Telaga Rambut Monte secara administratif terletak di Desa Krisik, Kec. Gandusari, Kab. Blitar. Keberadaan telaga ini tidak bisa dilepaskan deri mitos-mitos setempat. Suasana mistis semakin kuat karena telaga ini didiami ikan langka yang tidak ditemukan di tempat lain. Ikan tersebut disebut ikan sengkaring yang menurut mitos setempat merupakan jelmaan murid-murid Rsi Rambut Monte yang dihukum karena lalai. Terletak di bawah candi yang dihuni oleh ikan, yang oleh warga sekitar di sebut dengan Ikan Dewa.


G.          BENDUNG SUMBERDANDANG
Dinamakan sumberdandang karena dahulu air disana panas. Sumber dandang merupakan air sumber yang dibendung dan digunakan untuk irigasi di persawahan. Air yang jernih dengan warna biru agak tosca mirip dengan rambut monte menjadikan daya tarik tersendiri untuk anda. Selain itu bendungan yang dikelilingi bukit bangunan tinggi ini cukup cantik untuk dijadikan background foto. Selama ini belum banyak orang yang mengetahui lokasi ini, jadi saat ini kondisinya masih sepi. Meskipun ini bukan termasuk destinasi wisata di Blitar, namun tidak ada salahnya anda mencoba untuk mampir.

H.          KRITIK
Berikut merupakan kritik untuk wisata rambut monte yang dimaksudkan untuk membangun menjadi lebih baik:
a.             Akses jalan menuju rambut monte kurang mendukung dikarenakan jauh dan jalanan rusak, selain itu di sepanjang perjalanan tidak banyak terdapat warung kuliner serta penataan tanaman di sepanjang jalan kurang menarik.
b.            Toilet terbatas dan kurang terawat. Disana hanya terdapat satu toilet dan kurang bersih.
c.             Adanya kolam yang tidak diberdayakan. Kolam tersebut dulunya digunaan sebagai kolam renang, akan tetapi sekarang kolam tersebut tidak terpakai karena kotor dan tidak terawatt.
d.            Penataan tanaman kurang baik. Di tempat wisata rambut monte kurang ada tanaman hias seperti bunga yang diletakkan di pinggir kolam
e.             Kurangnya fasilitas yang mendukung di beberapa aspek. Terdapat lahan kosong yang seharusnya dapat diberdayakan menjadi tanaman buah-buahan, di sekitar telaga tidak ada pagar atau papan peringatan, jarang terdapat warung atau took souvenir di dalam tempat wisata.

I.             SOLUSI
Solusi yang kami tawarkan:
a.             Perlunya perhatian lebih dari pihak pemerintah maupun masyarakat lokal dalam akses pembangunan jalan
b.            Pembangunan toilet yang bersih dan memadai, dibedakan antara toilet pria dan wanita
c.             Pemanfaatan kolam yang tidak diberdayakan menjadi sarana wisata misalanya kolam renang
d.            Penambahan tanaman bunga di sekitar kawasan wisata ramnbut monte
e.             Penambahan sarana bermain anak dan outbound, tempat duduk/bersantai, gazebo, warung jajanan, pagar di sekitar telaga, budidaya merpati, dan budidaya tanaman buah.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar